Kamis, 22 April 2010

Sad love

Kisah ini bermula dari seorang gadis remaja dengan balutan sinis terhadap cinta, memiliki pengalaman cinta sangat pahit sehingga ia pun pada akhirnya mengalami trauma karena kegagalan cintanya, dimana cinta menurutnya hanyalah sebuah rasa yang pada akhirnya hanya membuat luka di hatinya. Hal itu terjadi karena gadis itu pernah mencintai seseorang namun pada akhirnya bukanlah kebahagiaan yang ia dapatkan namun pria yang dicintainya malah pergi meninggalkanya tanpa sebab, dan ketika ia mengalami kegagalan karena cinta, seseorang yang ia kagumi sejak dahulu hadir disampingnya menemaninya melewati masa-masa sulit, tapi hubungan itu pun tak seindah yang diharapkannya.

Mula kisah ini ketika itu bel berbunyi serentak suara siswa siswi pun bergema gembira karena menantikan pulang sekolah, suasana sepulang sekolah merupakan suasana yang cukup menyenangkan apabila semua orang bisa memandangnya dari sudut pandang Yurly, cewek cantik, ramah, baik dan selalu riang. Yurly menikmati setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya, merasakan tawa yang keluar dari bibirnya ketika melihat seorang siswa menjatuhkan jajanannya dari kantung tasnya sambil menggelengkan kepalanya dan ketika melihat dua anak yang saling berpegangan tangan menyusuri lorong-lorong kelas dan tersipu malu tatkala beberapa siswa yang berkerumun menyoraki mereka ”cieee... Indahnya cinta”.
"Yurly," sebuah suara menyapanya, "maaf aku membuatmu menunggu" Yurli menoleh dan melihat Gara berlari-lari kecil menghampirinya sambil terengah-engah.
"Ah, ngga apa-apa kok." Jawab Yurly sambil tersipu, toh ia menikmati suasana ini.
"Yuk" Gara dengan segap menggandengnya menuju parkiran sepeda motor di depan sekolah.

Yurly membiarkan angin menyibak rambutnya saat sepeda motor Gara menelusuri jalan raya menuju ke rumahnya. Tangannya terjulur memeluk pinggang Gara erat-erat, tangannya yang lain memegangi helm yang menutupi kepalanya supaya tidak terbawa oleh angin saat mereka melaju. Mendadak Gara memelankan laju sepeda motornya.
"Yurly" Gara berkata lembut,
"kita cari tempat untuk ngobrol yuk."
Yurly mendesah mengiyakan dan merasakan kegalauan yang sejak kemarin mengamuk di hatinya semakin menjadi-jadi.

Gara membelokkan sepeda motornya memasuki sebuah gang kecil, menelusuri jalanan sempit itu, dan berhenti di pekarangan sebuah rumah kecil yang rindang ditumbuhi pepohonan. Yurly semakin merasakan resah dan gemuruh di hatinya. Gara menurunkan penopang sepeda motornya, menunggu sampai Yurly turun, dan melangkah ke arah teras rumah. Yurly menggenggam tali tasnya erat-erat, mencoba mengusir galau hatinya dan mengikuti langkah Gara. Yurly mendudukkan dirinya di atas kursi taman di depan Gara duduk, menatap lurus ke ujung-ujung sepatunya.

Yurly memejamkan matanya mendengar setiap kata-kata penjelasan Gara. Air mata mulai mendesak keluar dari kantung matanya.
"Maafkan aku," desis Gara. Ah, mungkin kata-kata itulah yang paling banyak dilatihnya semalaman supaya bisa diucapkannya saat ini.
"Aku mau pulang," Yurly akhirnya berbisik lirih.
"Aku antar ya?" Gara bangkit berdiri dari kursinya.
"Thanks, tapi aku sebaiknya pulang sendiri," Yurly mengeraskan hatinya, tak ingin kelihatan cengeng di depan Gara.
Gara memandang punggung Yurly yang berjalan menyusuri pekarangan dan menghilang di balik pagar, Gara menendang meja tamunya, merasakan nyeri di ujung kakinya dan di dalam hatinya.

Yurly merasakan hatinya sedikit tenang saat kakinya melangkah semakin jauh dari rumah Gara, Yurly menolehkan kepalanya, dan menatap atap rumah itu yang menyembul di antara pepohonan. Tak ada lagi Gara yang manis, yang membelai rambutnya dengan lembut, membuatnya tertawa riang, yang ada hanyalah angin yang berhembus, menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan cinta yang telah empat tahun terjalin di antara mereka.

Yurly tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya bertanya-tanya selama perjalanan pulang di dalam angkutan umum itu, yang diinginkannya saat ini adalah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, membenamkan kepalanya di dalam bantal dan berteriak sekuat-kuatnya melepaskan beban di hatinya.

Hari-haripun dijalani Yurly dengan rasa yang sangat teriris perih setiap penjelasan Gara ketika memutuskan pertalian cinta mereka pun tak kunjung hilang dari hayalnya. ”Kepada siapa aku mengadu” kata hati pun berteriak menggebu-gebu seiring kekesalan yang tak kunjung hilang. ”Namun aku harus bisa untuk memulai hari-hari yang baru tanpa Gara” Yurly pun begeming dalam hatinya. Namun tak bisa diterima alasan Gara untuk memutuskan hubungan ini ia bilang ”maaf Yurly kita tidak bisa meneruskan hubungan ini, karna aku harus menuruti permintaan orangtua aku yang tak setuju dengan hubungan yang kita jalani ini,” ia berkata begitu padahal hubungan yang kita jalani sudah memasuki tahun ke-4, sungguh tidak masuk akal.

Disekolah pun Yurly hanya bisa melihat Gara dari kejauhan sambil mencuri-curi padang supaya tidak ketahuan olehnya. Namun tak lama Yurly memandang hentakan tangan ke pundakku pun mengagetkan akan pandanganku.
”Hey” tegur Runa teman kecil Yurly yang sangat iseng
”Hayu masih aja diliatin, orang dia aja sudah ga perduli lagi kok sama kamu”, Yurly pun salah tingkah ketika Runa berkata begitu.
”Apa sih Runa orang lagi liat anak-anak yang sedang main basket kok” alesan si Yurly.
”Sudahlah mending temenin aku yuk ke mbok Darsih ntar aku yang teraktir deh”, ucap si Runa. Dan Yurly pun mengiyakan ajakan si Runa.
Setibanya di katin mereka berdua pun memakan lahap baso mbok Darsih yang paling laris itu. Akhirnya kata-kata pun keluar dari mulut si Yurly dengan bibir yang tipis itu "Tapi, Run, aku masih susah untuk melupakannya" Run menatap mata sendu Yurly dalam-dalam, memandang kearah pasang yang mulai terlihat surut.
"Walau bagaimanapun, yang namanya cinta, memang cenderung berakhir menyakitkan, menorehkan luka kenangan yang sulit dilupakan, karena di situlah letak karasteristik sebuah perasaan cinta" Ucap Gara.
"Ah, tapi ada kan yang cintanya tetap kekal dan membawa kebahagiaan?" senggah Yurly
Runa mengembangkan senyumnya, membuang puntung rokok yang masih setengah panjangnya itu jauh-jauh ke sebuah selokan kantin ketika ia duduk sehabis menikmati baso mbok Darsih, "Jangan mengacaukan cinta dengan kasih".
Yurly mengikuti gerakan Runa ketika ia telah membuang rokoknya dan meminum es teh manis yang tinggal sedikit "Maksud kamu?" tanya Yurly
Runa bangkit berdiri, menggosokkan telapak tangannya yang terasa bau rokok dengan sebuah cairan pengaharun agar tidak tercium oleh guru di kelas nanti, membersihkan butir-butir abu rokok yang menempel di baju maupun di celananya, "Kasih, tidak terbawa oleh nafsu, karena itu ia abadi adanya. Tetapi cinta lekat dengan nafsu, nafsu ingin memiliki, ingin mengikat, menguasai, memuaskan, dan egoisme adalah inti utama dari cinta," sampai di sini Runa menghela nafasnya, berusaha menimbulkan kesan dalam pada setiap ucapannya.
"Dan bukankah itu yang selalu disenandungkan orang-orang dalam lagu-lagu mereka? Pernahkah mereka membicarakan tentang kasih? Kasih yang tidak menuntut, hanya memberi, berlandaskan pengorbanan, tidak cemburu, murah hati, dan sebagainya seperti yang pernah engkau pelajari?"
Yurly mengalihkan pandangannya dari Runa ke arah jauh lorong-lorong kantin, "Kamu tahu banyak, Run dan mungkin kamu benar" gumam Yurly.
Run tertawa, melompat kecil ke belakang Yurly, memegang pundaknya dan memijat perlahan, "Kau mengerti sekarang?"
"Tujuh puluh lima persen ngerti" senyum Yurly menikmati pijatan Runa.
Runa pun akhirnya memijat kasar kepundaknya Yurly dan berlari kecil menuju kelas sambil berteriak keras ”Thaks ya udah ditemenin beli baso”
Yurly tertawa melihat gayanya yang konyol sambil mengejar Gara dan sesampainya dikelas ia pun menjewer kuping Runa sebelum melangkah masuk ke kelas ”Dasar yah Rudon” pangilan kecil buat runa
”Bukanya neraktir malah lari masuk kelas jadi Yurly juga deh yang bayar,” sambil bercanda
”Maaf deh tadi dompet Runa ketinggal di rumah”.tegas Runa.

Setibanya dirumah, Yurly merasa bingung dengan dirinya sendiri, menyaksikan Gara yang berlutut memeluk kakinya dan memohonnya kembali
"Yurly, aku tak bisa hidup tanpa kamu," Gara membenamkan wajahnya di sela-sela kaki gadis yang duduk di hadapan Yurly
"Gara....." Yurly merasakan air mata mulai mengalir di pipinya.
“Bahkan sampai sekarang aku masih tetap menyayangimu” sela gara.
Yurly membungkukkan tubuhnya, memegang bahu Gara, dan mengecup ubun-ubunnya,sambil bertanya "Bagaimana dengan keluargamu?"
Gara mendekap kaki Yurly lebih erat, "Persetan dengan mereka."
Namun sejenak Yuritu tersentak kaget dengan suara motor yang melintas di depan rumahnya, Yurly tersadar bahwa tadi hanyalah sebuah lamunan dan seperti kebanyakan mimpi, Yurly hanya menganggapnya sebagai suatu pelampiasan keinginan perfeksionis yang tidak tercapai di kehidupan nyata.

Sebulan waktu telah dilewati dan hari-harinya pun sama seperti biasa Yurly hanya bisa melihat Gara dari kejauhan yang sedang asik bemain dengan teman-teman dekatnya. Dan tak lama kemudian sesosok wanita dengan tubuh yang tinggi rambut tergurai panjang serta wajah yang berbunga-bunga menghampiri Gara dan teman-teman Gara yang tadi sedang bermain denganya pun membubarkan diri seolah memberikan suatu ruang untuk mereka berdua untuk berdua, hati ku pun berdetak tak ingin sekali melihat kejadian seperti ini. Hati ini pun bertanya-tanya siapakah gerangan yang mendekati Gara seolah Yurly cemburu.

Bel masuk setelah istirahat pun berbunyi dan akhirnya Yurly pun masuk kedalam kelas dan di sepanjang mata pelajaran hanya memikirkan wanita tadi yang menghampiri Gara. Setelah pulang sekolah Runa mengajak Yurly untuk pulang bersama, sepanjang jalan Yurly hanya bercerita peristiwa yang tadi Yurly lihat kepada Runa
"Alangkah susahnya melupakan cinta pertama." Ranu tersenyum,sambil memperhatikan pepohonan yang berlari di sekitarnya
"Kata orang, cinta pertama dibawa mati, 'tul ngga?" Yurly bertanya sambil menarik nafasnya panjang-panjang, "Aku tak pernah mencoba membayangkan untuk mengecup bibir seseorang dan menyerupakannya dengan Gara."

Runa menggerakkan kaki ke kanan, menghindari kucing liar yang mendadak melintasi jalan.
"Bukankah beberapa orang justru melakukannya?" tegur Runa
Dan tiba-tiba di tengah perjalan mereka mendapati Gara dengan wanita tadi yang menghampirinya sedang duduk di sebuah cafe gaul anak muda dipingir jalan.
Runa pun bertanya “Yurly..Itu bukany Gara??dengan siapa yah dia??.”
Yurly pun menjawab ”ga tahu” dengan nada yang begitu kecewa.
Dengan penasaran akhirnya Runa dengan nekadnya menghampiri Gara padahal telah di tahan oleh Yurly tetapi Runa tidak menggubris larangan Yurly. Dan Yurly hanya melihat dari kejauhan dan sampai akhirny hal yang tidak di inginkan pun terjadi Runa memukul wajah Gara tepat di pelipis bawah matanya sampai Gara pun terjatuh dari kursinya hingga perkelahian mereka berdua pun harus dihelai oleh pengujung lainya yang sedang menikmati hidanganya.
Sekitar 10 menit Yurly menghampiri mereka sambil menahan emosinya. “Runa..apa-apan sih kamu ga usaha jadi pereman pasar deh”.
Yurly mencoba medekati Gara dan mebersihkan debu-debu di bajunya karena tadi terjatuh.sambil bertanya “kamu enggak apa-apa Gara?”
Wanita yang bersama Gara pun tidak mau kalah dengan Yurly ikut menghampiri Gara dan menayakan Gara “sayang ada apa sih ini semua??”dengan nada yang bingung.
Gara pun angkat bicara “ohhh..ini sayang temen aku Yurly”dengan wajah ketakutan dan serasa Yurly tak pernah hadir di hati Gara.
”Lalu yang mukul kamu itu siapa??kenapa dia tiba-tiba mukul kamu??”ucap wanita yang bersama Gara.
“tau tuh orang gila kacungnya Yurly kayanya” jawab Gara.
Yurly pun dengan kesal menampar Gara sambil berkata “dasar kamu Gara, ini yang menjadi alasan kamu untuk putusin aku, karena wanita ini kamu putusin hubungan selama 4 tahun, dan juga jaga perkataan kamu dia itu Runa bukan orang gila, Runa temen baik aku” Yurly dengan nada bicara tinggi. Dan akhirnya Runa pun mendapatkan ngengaman tanggan Yurly dan bergegas pergi dari hadapan Gara dan wanita bersamanya.

Di sepanjang jalan Yurly bergelinang air mata dan membasahi rona merah pipinya. Runa pun tak bisa berbuat apa-apa hanya menunggu Runa hingga bisa bicara kembali, akhirnya Yurly mengeluarkan nada dari mulutnya yang mungil dengan terbatah-batah “kenapa yah bisa begini akhirnya?? ini kah balasanya terhadap diriku” sambil mengelus pipinya karena air matanya itu.
Runa pun tak menjawab hanya mengambil kepala Yurly dan didekap kepudaknya, “Menangislah sepuasnya dan setelah puas baru kamu kuat kan hati kamu untuk tidak akan mengenal Gara lagi karena dia tidak patas untuk kamu pikirkan ataupun kamu sebut namanya”, Runa dengan gaya yang serius. Yurly hanya terdiam dan tak berdaya lagi untuk berkata-kata. Runa pun mengajak Yurly kesebuah tempat indah bermaksud untuk menghibur Yurly yang sedang gundah, disebuah tempat tinggi lebih jelasnya pembangunan gedung yang terbengkalai dengan 8 tingkat lantai dan ia pun berdua menududuki tempat yang tertinggi, “Disinilah tempat untuk menenangkan hati, kamu bisa menangis, teriak, ataupun tertawa sepuasnya dan sekeras-kerasnya. Dan ditempat inilah terakhir aku bisa melihat almarhum bokap yang pada waktu itu sedang dalam proyek pembangunan gedung ini”, seruan Runa yang terdengar mirintih sekali di hati. Yurly pun terhentak dan dalam hatinya berkata “Dalam sekali rasa sedihnya Runa, ga ada sedikit pun rasa sedihku ketimbang rasa sedihnya Runa’. Di tempat itulah akhirnya timbul benih-benih cinta yang sangat unik di antara mereka berdua. Ketika tatapan Runa terhadap Yurly yang begitu dalam sehingga Yurly berdetak keras terasa di jantuknya seolah-olah ia telaha terlupakan oleh kejadian tadi yang telah mengetahui betapa kejamnya Gara yang memutuskan hubunganya.

Setibanya dirumah Yurly memikirkan tatapan mata Runa yang sangat dalam itu. Didalam hatinya terbawakan rasa gelisah dan penuh kebinggunan, setelah ia flashback waktu besama Runa sejak dahulu memang hanya Runa yang selalu ada untuknya, di waktu aku sedih, senang dan apapun itu kejadian selalu Runa disamping ku, selama ini hanya Runa yang care terhadap ku, apakah ini Cuma pelampiasan hati kecilku karena terlalu sakit karena tindakan Gara tadi atau kah ini rasa cinta yang sesungguhnya.

Keesokan harinya untuk pertama kalinya lagi Runa telah sigap ada di depan teras untuk pergi kesekolah bareng dengan Yurly setelah 2 tahun mereka tak pernah berangkat bersama karena Gara mulai menjemput Yurly di rumahnya, Runa tinggal di sebelah rumah Yurly, di rumah Gara hanya berdua dengan tantenya setelah 2 tahun sepeninggal ayahnya pergi, Runa hidup bersama tantenya karena ibunya Runa menikah lagi dengan seorang pengusaha asal kota bali dan ikut pindah dengan suami barunya. Dan tinggallah Runa dengan tantenya karena Runa bersikeras untuk tidak mau pergi dari rumah itu karena sebuah alasan memori akan ayahnya.
“Pagi Yurly”ucap Runa dengan lembut “hayu kita berangkat nanti telat loh” ucapan kedua Runa.
“Iya” dengan nada yang sedikit malu-malu dengan hayalnya yang melihat sosok lelaki tegar dengan segudang pederitaan yang dialaminya.
Disepanjang jalan mereka berdua terlihat hanya bertatapan mata ke mata saja dan tidak bicara sepatahkata pun, dan sekitar 10 M lagi menuju sekolah Runa pun akhirnya berkata kepada Yurly”Yurly, ada apa dari tadi diam aja sih?” tanya Runa
“enggak ada apa-apa kok”dengan malu Yurly menjawab.
Akhirnya hal yang tak disangka terjadi Runa dengan wajah yang serius seperti ingin mengutarakan sesuatu terhadap Yurly “Yurly, sebenarnya dari dulu itu aku” namun sebelum Runa menyelesaikan ucapnya teman dekatnya Runa pun menyapa mengajak untuk ke kelas bersama.
“Apaan sih Runa, kok tiba-tiba menyudahi perkataan ditengah penjelasaanya.” Hati Yurly yang penasaran dan geregetan dengan teman Runa yang mengganggu, dan karena sifat Runa yang rada iseng membuat Yurly menggangap apa yang akan dikatakn Runa hanyalah lelucon, karena kata-kata itu yang belum selesai sering di ucapkan oleh Runa namun dengan nada yang sedikit bercanda, namun perkataan terakhir itu terniang terus di pikiran Yurly setelah telah masuk kedalam kelas. Di kelas Yurly pun bertanya-tanya apakah yang di ucapkan Runa tadi. Didalam hati kecilnya pun Yurly mengira-gira apakah Runa mau mengungkapkan sesuatu untuk aku atau hanya hal biasa, tegas hati Yurly yang semakin pusing memikirkan perkatan Runa tadi.
Istirahat sekolah pun telah tiba tetapi Yurly hanya terdiam dan merasa hatinya yang sunyi ketika ia mengingat kembali kejadiaan dengan Gara di cafe kemarin dan rasa bercampur dengan kebingungan yang mendalam atas perkataan yang tidak selesai yang di utarakan oleh Runa. Jadi hatinya pun terbaluti bermacam-macam dan bercampur aduk dengan rasa kesal, sedih, terhianati, bingung dan penasaran. Terdiam meratapi jauh keluar jendela kelas, Yurly melihat sesosok Runa yang sedang bermain dengan teman-temanya. Disitu pun ia terpikir kembali atas ucapan Runa yang belum ia selesaikan, dan Yurly pun bertanya-tanya pada ruang kelas yang sunyi ketika itu apakah yang dimaksud dengan Runa adalah sebuah rasa cinta atau apakah itu. Dan tak lama Yurly pun terperosok kebawah lantai dan terjatuh pingsan dengan tiba-tiba dan sebangunya ia mendapati dirinya telah bergeletak di sebuah kasur yang telah kusam dengan balutan selembar handuk kecil hangat di bagian kepalanya, ia pun meratap ke sebelah kirinya dan melihat seorang Runa yang sedang menunggunya.Runa pun berkata “ehhh, jelek kena kamu, kok bisa-bisanya pingsan??”
Yurly pun menjawab dengan terlemas “duh enggak tau.tiba-tiba aja tadi medadak pusing”.
“pasti lupa sarapan lagi yah”.ucap Runa setelah mengganti kompresan di kepala Yurly. “iya lupa, lum sarapan” tegas Yurly dengan lemasnya.
“dasar kebiasaan baget deh kamu Yurly, ini yang ketiga kalinya kamu masuk ke ruang UKS, iya udah Runa balik ke kelas dulu soalnya udah masuk” dengan bergegas Runa pun pergi menigalkan ruangan UKS.
Dan Suster penjaga menghampiri Yurly yang tergeletak lemas di kasur dengan menyuapi sebuah sup hangat untuk mengisi isi perut Yurly biar bisa lebih baikan.
“Yang tadi itu pacar kamu yah” tanya Suster sambil menyodori sedok dengan isi sup ke arah mulut Yurly
“Bukan kok, itu Runa sus, temen saya di kelas juga tetangga dirumah” jawab Yurly sambil memakan sup yang telah disodori oleh suster.
“Oh, kirain... soalnya ketiga kalinya dalam sebulan ini kamu masuk UKS dia selalu yang membopong kamu kesini” berkata Suster yang sedikkit sok tau itu.
Yurly pun terdiam dan mengitisarikan ucapkan suster tersebut lalu ia pun teringat bahwa memang Runa yang selalu ada disampingnya ketika ia terbangun dari pingsannya dengan tatapan yang khawatir.
“ Masa sih bukan pacarnya” tegas Suster itu yang kedua kalinya. “soalnya kalau dilihat-lihat saat dia menggendong kamu dengan cepat-cepat dan dengan rasa yang sangat bergebu-gebu untuk memastikan kamu baik-baik saja loh, dan rasa kawatiranya melebihi seorang teman biasa deh” terusan ucapanya Suster tersebut.
Hati Yurly pun semakin yakin bahwa kecurigaan terhadap tindakan Runa yang berlebihan itu meyakinkan bahwa Runa sebetulnya mencintainya, namun apalah daya seorang Yurly.

Dan haripun berlalu begitu cepat hingga akhir masa-masa SMA pun akan datang dimulai dari besok, karena hasil kelulusan siswa akan diumumkan di mading sekolah, namun sampai saat hari ini Yurly hanya bisa sebatas teman dekat Runa karena tak kunjung juga Runa mengunggapkan perasaanya ketika Yurly yakin sekali bahwa Runa mencintainya. Di sekolah pun sama seperti hari-hari yang ia lewatkan bersama Runa dimana mereka begitu mesrah namun tak jelas hubungan statusnya karena tak ada ungkapan cinta diantara mereka.
“Hore!!!” begitu gembiranya mereka dengan kelulusan mereka. Namun tidak dengan Yurly karena firasat Yurly yang berkata bahwa selepas SMA Runa akan pergi meninggalkannya, hal seperti ini yang ia ditakutinya. Yurly dalam hatinya tak ingin masa-masa SMA ini berakhir sampai kapan pun karena ia tak ingin jauh dari Runa nantinya.

Di hari ini Yurly sangat tersayat sekali ketika mendengar kabar dari Runa, kalau Runa akan kuliah di Bali bersama ibunya disana karena tantenya telah didesak tunangannya untuk menikah, maka Runa pun tak bisa terus-terusan bersama tantenya. Hari itu terasa kelabu, serasa kesunyianpun datang dan merasup kedalam diri Yurly. Runa tak kunjung memberitahu dari jauh-jauh hari ia akan ke bali, dan parahnya Runa tak sama sekali berkata apapun untuk pamit dan tapi bukan itu yang terpenting tapi kenapa harus ia yang menerima ini ketika ia yakin bahwa Runa lah yang ia sayangi tapi Runa tak kunjung mengungkapkan cintanya, bahkan Runa hanya meninggalkan memo kecil seperginya ke Bali.

For Yurly..


Maaf yah Runa ga bisa bilang kalo Runa harus ke bali karena memang keadaan yang memaksa tapi Runa janji 4 tahun lagi Runa akan kembali menemui Yurly dan meneruskan perjalanan ini bersama Yurly, semoga Yurly bisa mengerti dan mau maafin Runa yah..


From Runa


Hanya memo kecil yang Yurly punya sekarang ketika dahulu banyak sekali kenangan-kenangan yang telah kita lewati bersama dari SD,SMP dan SMA. Yah Tuhan apakah ini yang terjadi kepada seorang hambamu yang lemah ini ketika kehausan akan cintanya namun ia pergi begitu saja dengan membawa sebuah harapan yang mungkin nanti ia akan lupakan apakah hanya selembar kertas ini yang bisa menjadi pedoman cintaku terhadapnya.

Hari-hari berlalu bulan-bulan pun berganti dan tahun ke tahun telah Yurly lewati, “namun aku hanya selalu mengharap seorang Runa hadir disebelah ku ketika ku harus kehilangan cinta itu. Mengapa ia tak ungkapkan saja rasa itu atau kah memang ia tak mencitai ku karena merasa sahabat saja namun hati ini menolak untuk hal yang satu tadi karena hati ini hanya mencintainya untuk selamanya” hal yang selalu ada dibenaknya.

Di bulan agustus pas hari ini selang 4 tahun sepeninggal Runa, Yurly hanya memandangi rumah lama Runa yang telah kosong selama 4 tahun ini mengharap kehadirnya bertapak di rumah itu namun runa tak kunjung ada, selama dua hari pun Yurly menunggunya namun sepeti biasa Yurly mendapati rumah yang kosong dan semakin seram saja dilihat.

Akhirnya seminggu berlalu sepercik surat pun ada di halama teras dan Yurly yakin itu adalah sebuah pertanda buruk untuknya, ketika ku buka ternyata benar apa yang ku takuti surat dari Runa, Hati senang namun mendung karena walaupun Runa masih mengingatku namun ia tak bisa menepati janjinya karena ibunya disana sedang sakit keras jadi dia tidak bisa datang tepat 4 tahun sepeninggalnya dari hadapan Yurly, namun seperti biasa ia berjanji untuk kedua kalinya bahwa ia akan datang di waktu yang indah nantinya untuk seorang diri Yurly. Dan akhirnya Yurly hanya mendapat 2 surat dari Runa seakan rasa cinta ini hanya sebatas kedua surat ini saja.

Di kampus Yurly tidak begitu kenal banyak orang mungkin karena 4 tahun kuliah Yurly hanya menjadi gadis pemurung yang patah arah karena cinta yang tak jelas ini. Namun Yurly hanya berharap pada kedua surat pemberian Runa itu. Tapi Yurly punya satu sahabat panggilannya Lyla, “Lyla adalah temen pendengar terbaikku saat ini walaupun tak sehebat Runa namun ia lumayan bisa membantuku untuk mengungkapkan curahan hati ini karena cinta ku ke Runa yang tak pasti ini”.
Ketika itu matakuliah seminar dan setelah seminarku selesai Lyla mengenalkan Yurly pada seorang laki-laki dengan rambut cepak bertubuh tinggi dan berkulit kecoklatan ia bernama Ferdy.
”hey Yurly kenalkan, ini Ferdy temen ku loh” kata Lyla lalu sambil berbisik ketelinga Yurly
“Ferdy ini suka banget sama kamu” namun aku biasa saja atas kabar dari Lyla itu.
“Ferdy” sambil megulurkan tangan mengharap jabatan tangan dengan Yurly
“Yurly” balas Yurly dengan mejabat tangan Ferdy yang dilentangkan di depan tubuh Yurly.
“Gimana klo kita rayakan seminarnya Yurly yang telah kelar ini” jelas Lyla dengan mengharap Yurly mengiyakan ajakanya.
“Boleh tuh mau kemana kita” jawab Ferdy yang yakin bahwa Yurly ingin pergi
“Duh maaf yah aku harus beri kabar dulu sama yang dirumah yah bisa atau ngganya” jawab Yurly dengan nada yang sedikit mengkecewakan Ferdy dan Lyla, namun Lyla tak kunjung putus asa iya mendesak Yurly untuk ikut ajakanya karena ia tau bawha selama ini Yurly cukup mederita karena tak kunjung mendapat sesosok pria disampingnya dan masih membawa harapan yang tak jelas terhadap Runa itu.

Dan ahkirnya mereka pun jalan bertiga kesebuah restoran elite di kawasan perkotaan karena Yurly tak bisa menolak ajakan yang rada memaksa tadi akhirnya ia pun luluh dengan permohonan teman curhatnya itu. Dimeja itu Ferdy seolah-olah ingin sekali mengenal Yurly lebih jauh dan semakin penasaran pun ia menawarkan untuk mengantar pulang nantinya. Hal ini telah mereka rencanakan, sehingga Yurly bisa pulang berdua saja dengan Ferdy. Di sepanjang jalan terlintas lalu lalang kendaran-kendaran yang melaju di jalan-jalan besar kota, serta lampu-lampu berkilau di area perkotaan membuatku takjub akan hal yang indah ini karena pertama kalinya hati ini serasa senang melihat muda-mudi dijalan yang ramai dan keindahan kota di malam itu.
Ferdy pun mengukapkan sebuah kata “Yur mau kah kamu menjadi pacar ku” tiba-tiba saja jantung berdetak kencang dan tak tahu harus berbuat apa. Yurly hanya berbikir sendainya orang ini Runa Pasti langsung mengiyakan.
“Ahhh secepat ini kah, kamu merasa jatuh cinta” jelas Yurly.
“Engga sebetulnya Ferdy sudah lama suka sama Yurly”, ungkap Ferdy.
Namun Yurly hanya diam dan merasa binggung dan tak tahu harus berkata apa. Telintas pikiran untuk menerima namun ia tak bisa karena ia masih menunggu Runa.
”Gimana mau kan” tegas Ferdy sekali lagi
”Gimana yah, aku pikir-pikir dulu yah soalnya kita kan baru kenal” jawab Yurly dengan rasa yang tidak enak terhadap Ferdy. Dan akhirnya sampailah di depan jalan komplek rumah Yurly dan akhirnya ia pun sampai di depan rumah Yurly, Yurly Pun akhirnya turun dari mobil tersebut dan menginjak jalan aspal yang ada di depan rumahnya. Ketika ia ingin masuk kepekaranga rumah Ferdy pun turun dari mobil mewahnya dan menyapa terakhir kepada Yurly “Sampai besok yah”, ucap Ferdy
Yurly pun menjawab “thaks yah dah di anter, iya sampai besok juga”.
Namun setelah ia menolehkan wajah dari hadapan Ferdy ia melihat sesosok yang sepertinya ia kenal dengan rambut gondrong namun rapi dengan wajah yang tergagum-kagum melihatku dan orang itu pun menyapa “Yurly!!” serasa aku mengenal nada ini siapakah orang ini.
Setelah saling terdiam dan sama-sama menatap pandang antara mata ke mata, Yurly pun tersadar dan terkaget sambil berlari kencang dan langsung didapatnya ia memeluk seorang pria gondrong itu.
“Runa, kok baru ke sini lagi sih, Yurly kan kagen tahu” sambil merintih dan meneteskan air mata Yurly pun berucap.
“Maafin Runa ya, Runa dah bikin janji ma Yurly yang ga di tepati” ujar Runa dengan santainya namun terharu juga. Mereka akhirnya bertemu kembali diselimuti rasa yang medalam akibat kagen yang begitu hebat di antara mereka berdua, entah yang membuat mereka terus hanya saling meratapi namun inilah sebenarnya rasa yang sungguh terpendam antara mereka.
“Run, gimana kabarny??”, ujar Yurly sambil mengusap tetes air mata kangennya, “amien, baik-baik saja, Yurly gimana kabarnya?baik juga kan??,Runa menjawab. “Oh iya, Ibu kamu sehat kan??dah sembuhkan??”Yurly kembali bertanya.
Namun tak kala itu Runa hanya terdiam meratapi sebuah cangkir yang terisi teh hangat dalam gengamanya dan terbatah-batah sambil menahan tangis ia mengucap, “Ibu aku tidak selamat Yur, beliau koma dalam 2 minggu dan akhirnya meninggal menyusul ayah ku”.Sesosok pria yang selengean dan urakan seperti Runa akhirnya terlihat sisi lemahnya ia menangis tanpa malu di depan Yurly ketika memberi kabar tentang ibunya itu.
“inalillahi, aku terut berduka cita Run” kata Yurly
“iya makasi yah” Runa menjawab.
Teragis sekali nasib anak malang ini akhirnya ia hanya sebatang kara. Dan dimalam itu mereka saling bercengkerama melepas rindu selama 4 tahun hingga larut dan pada akhir pembicaraan yurly bertanya kepada Runa ”Lalu Run, sekarang kamu ke jakarta mau apa?dan mau tinggal dimana?”
”Yah paling nanti ke rumah Tante, kesini tujuanya pertama mau tepati janji ke pada Yurly dan sambil belajar mencari nafkah saja disini” jawab Runa dengan tegasnya. Akhirnya Runa pamit pulang karena telah larut malam.


To be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar